Senator Kanada Ungkap Pentingnya Kerja Sama dengan Indonesia, Tak Sekadar Perdagangan

Kanada perlu memperkuat hubungan dengan negara-negara Asia Tenggara, khususnya Indonesia.

Headline37 Views

Channel Indonesia – Senator Kanada dari British Columbia, Yuen Pau Woo, berbicara mengenai pentingnya Undang-Undang untuk mengimplementasikan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif antara Kanada dan Indonesia (Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement/ICA-CEPA).

Ia menyatakan bahwa kerja sama tersebut memiliki arti lebih besar, bukan hanya sekadar perdagangan. Kanada perlu memperkuat hubungan dengan negara-negara Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Demikian ditegaskan Pau Woo dalam pertemuan di Gedung Senat Kanada, Ottawa, Rabu (15/4).

“Perjanjian ini bukan hanya tentang perdagangan. Ini tentang bagaimana Kanada memposisikan diri di dunia yang tidak lagi terorganisasi di sekitar satu pusat kekuasaan. Sejauh Kanada berupaya untuk mendiversifikasi hubungan ekonominya di luar Amerika Serikat, Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara merupakan pasar prioritas,” kata Yuen Pau Woo, seperti dikutip dari akun Youtube resminya, Jumat (24/4).

Ia kemudian menuturkan bahwa Indonesia memiliki sejarah panjang sebagai sebuah kekuatan besar di Asia Tenggara sejak berabad-abad lalu. Posisi strategis Indonesia di dunia terus berlanjut hingga saat ini.

Secara geografis, Indonesia berada di antara Samudra Hindia dan Pasifik. Selat Malaka yang terletak di perairan Indonesia merupakan jalur perdagangan vital bagi dunia. Menurut Pau Woo, bahkan lebih penting dari Selat Hormuz.

“Jika Anda mengira blokade Selat Hormuz merupakan masalah bagi perekonomian dunia, bayangkan blokade Selat Malaka yang penting bukan hanya untuk jalur minyak dan gas, tetapi juga kapal kontainer dan kapal kargo curah,” paparnya

Dengan 17.000 pulau yang membentang sepanjang 5.000 kilometer (km) dan memiliki populasi terbesar keempat di dunia, serta tercatat sebagai negara mayoritas Muslim terbesar, Indonesia telah menjadi negara yang berpengaruh dalam dunia internasional sejak merdeka pada 1945. Pau Woo menyebut kepemimpinan Indonesia dalam Konferensi Asia-Afrika tahun 1955 sebagai salah satu contoh.

“Dan di bawah Presiden Prabowo Subianto, tampaknya negara ini siap memainkan peran yang lebih penting lagi di tahun-tahun mendatang. Indonesia menjadi anggota penuh BRICS pada tahun 2025, dan merupakan satu-satunya anggota tetap G20 dari Asia Tenggara,” ucap Pau Woo.

Ia melanjutkan, Indonesia juga salah satu pendiri Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) pada 1965. Meski ASEAN beroperasi berdasarkan konsensus, Indonesia dipandang oleh banyak pihak sebagai pemimpin tidak resmi perhimpunan ini, dengan Sekretariat ASEAN berlokasi di Jakarta.

“Kanada mengakui apa yang disebut sentralitas ASEAN dalam strategi Indo-Pasifiknya, yang merupakan pengakuan atas pentingnya Asia Tenggara dalam tatanan dunia yang berubah. Bagi Kanada, ini bukan hanya pasar, tetapi juga gerbang menuju salah satu kawasan paling penting di abad ke-21,” kata Pau Woo.

Mengutip pernyataan Perdana Menteri Kanada Mark Carney di Davos pada Januari 2026 lalu mengenai standar ganda tatanan dunia lama dan munculnya tatanan dunia yang lebih multipolar, Pau Woo menekankan pentingnya kebijakan luar negeri yang lebih independen bagi Kanada. Dalam hal itu, menurutnya, Kanada bisa belajar dari Indonesia.

“Negara-negara ASEAN, dan Indonesia khususnya, telah lama menyadari geopolitik, persaingan kekuatan besar, dan pentingnya otonomi strategis. Saat kita memulai jalan kita sendiri menuju kemandirian kebijakan luar negeri yang lebih besar, kita dapat belajar satu atau dua hal dari Indonesia, yang telah memperjuangkan keseimbangan dan kemandirian dalam hubungan luar negerinya,” tuturnya.

Indonesia, sambung Pau Woo, berkontribusi aktif dalam reformasi tata kelola global dan harus dipandang sebagai mitra penting. Dalam berbagai forum multilateral, Indonesia kerap menyerukan kepentingan negara-negara berkembang.

“Kita mungkin tidak sependapat dengan Indonesia dalam semua isu ini, tetapi mengabaikan pengaruh mereka terhadap arsitektur tata kelola global yang terus berkembang akan menjadi kesalahan besar,” tegasnya.

Mengakhiri pidatonya di Senat Kanada, Pau Woo mengatakan bahwa Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Kanada-Indonesia bukan hanya tentang tarif, tetapi lebih tentang membangun kepercayaan antara kedua negara.

“Ini juga merupakan jalan untuk memperkuat hubungan bilateral di berbagai bidang lainnya. Dalam hal ini, perjanjian tersebut merupakan sinyal bagi Kanada untuk lebih memperhatikan Indonesia, dan sebaliknya. Baik itu kemitraan penelitian, mobilitas mahasiswa, pariwisata, atau pertukaran budaya. Kita membutuhkan lebih banyak Indonesia, dan Indonesia membutuhkan lebih banyak Kanada,” tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *