Penyebab Manusia Sering Lupa

Melansir Science Daily, alih-alih menjadi bug, lupa mungkin merupakan fitur fungsional otak, yang memungkinkannya berinteraksi secara dinamis dengan lingkungan.

Headline, Konten460 Views

Channel Indonesia – Mayoritas manusia memiliki keunikan yaitu sering melupakan hal hal yang ada di hidupnya. Fenomena ini menjadi sebuah pertanyaan besar yaitu mengapa semua bisa terjadi?

Para ilmuwan di balik teori baru – yang diuraikan hari ini di jurnal internasional terkemuka Nature Review Neuroscience – menunjukkan bahwa perubahan dalam kemampuan kita untuk mengakses ingatan tertentu didasarkan pada umpan balik dan prediktabilitas lingkungan.

Melansir Science Daily, alih-alih menjadi bug, lupa mungkin merupakan fitur fungsional otak, yang memungkinkannya berinteraksi secara dinamis dengan lingkungan.

Dalam dunia yang terus berubah, lupa terhadap beberapa hal justru dapat menguntungkan. Pasalnya, proses itu bisa mengarahkan manusia ke perilaku yang lebih fleksibel dan membuat keputusan yang lebih baik.

Jika memori didapat dalam situasi yang tidak sama sekali relevan dengan lingkungan saat ini, melupakannya pun bisa berdampak positif.

Alhasil, para pakar meyakini, manusia belajar melupakan beberapa memori dan di saat bersamaan mempertahankan yang penting.

Melupakan tentu saja berdampak kepada kehilangan beberapa informasi. Namun, seiring perkembangan riset, paling tidak dalam beberapa kasus, melupakan bukan lah soal kehilangan memori melainkan pengalihan akses terhadapnya.

Teori baru ini diajukan oleh Dr Tomás Ryan, Associate Professor in the School of Biochemistry and Immunology and the Trinity College Institute of Neuroscience at Trinity College Dublin, dan Dr Paul Frankland, Professor in the Department of Psychology at the University of Toronto and the Hospital for Sick Children di Toronto.

Ryan menuturkan, memori di memori disimpan dalam sebuah ensambel neuron yang disebut ‘sel engram’.

“Jika memori sukses dipanggil kembali, itu melibatkan reaktivasi dari ensambel tersebut,” kata Ryan seperti dilansir laman Trinity College Dublin.

Menurutnya, konsekuensi logis dari hal tersebut adalah ketika lupa, sel engram tidak dapat direaktivasi. “Memori sendiri masih di sana, tetapi jika ensambel spesifik tidak bisa diaktivasi, memorinya tidak dapat diingat,” ujarnya.

Ryan mengungkapkan, teori barunya berargumen, lupa terjadi karena pemodelan ulang sirkuit yang mengatur sel engram dari dapat diakses ke tidak dapat diakses.

“Karena tingkat kelupaan dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, kami mengusulkan bahwa kelupaan sebenarnya adalah bentuk pembelajaran yang mengubah aksesibilitas ingatan sejalan dengan lingkungan dan seberapa mudah diprediksi.” kata Ryan.

Lebih lanjut, Frankland menambahkan, “ada beberapa cara otak untuk lupa. Tetapi semua itu berujung ke membuat engram sulit untuk diakses,” katanya.(Dari berbagai sumber/Annisa)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *