93 Sekolah Rakyat Permanen Dibuka, Harapan Baru bagi Anak-Anak Keluarga Tidak Mampu

Bagi Prabowo, angka tersebut bukan sekadar jumlah sekolah, melainkan kesempatan bagi anak-anak yang sebelumnya harus berjuang keras hanya untuk bertahan hidup.

Konten21 Views

Channel Indonesia – Di balik bertambahnya jumlah Sekolah Rakyat, terselip kisah anak-anak Indonesia yang kembali menemukan harapan. Mereka adalah anak-anak dari keluarga kurang mampu yang sempat kehilangan kesempatan bersekolah, namun kini kembali duduk di bangku sekolah dan mulai menata kembali cita-cita mereka.

Dalam pidato kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8), Presiden RI Prabowo Subianto menyampaikan bahwa pemerintah akan membuka 93 Sekolah Rakyat permanen. Jika digabung dengan sekolah rakyat rintisan yang telah berjalan, jumlahnya mencapai 182 sekolah.

“Semua kabupaten akan punya satu sekolah rakyat,” ujar Presiden.

Bagi Prabowo, angka tersebut bukan sekadar jumlah sekolah, melainkan kesempatan bagi anak-anak yang sebelumnya harus berjuang keras hanya untuk bertahan hidup. Salah satunya Muhammad Rizki Pratama, siswa berusia 12 tahun yang sebelum masuk Sekolah Rakyat pernah mengayuh sepeda hingga puluhan kilometer sambil membawa sekitar 30 kilogram ikan untuk dijual.

Di usia yang seharusnya dihabiskan untuk belajar dan bermain, tubuh kecil Rizki justru harus menanggung beban yang tidak ringan.

“Bayangkan, Rizki berdiri lagi. Bayangkan, badan seperti ini, naik sepeda, membawa 30 kilo ikan. Luar biasa kau Rizki, kau anak yang baik,” ungkap Prabowo.

Rizki bahkan sempat putus sekolah sebelum akhirnya mendapat kesempatan kedua lewat Sekolah Rakyat.

“Ia sempat putus sekolah, dan waktu masuk Sekolah Rakyat, ia belum lancar membaca, dan belum bisa menghitung dengan baik. Hari ini, Rizki kembali ke sekolah. Ia mendapatkan kembali haknya untuk belajar, dan melatih cita-cita,” katanya.

“Tidak ada investasi yang lebih berharga daripada mengembalikan masa depan seorang anak. Saya yakin Rizki, kau akan menjadi pribadi yang kuat,” lanjutnya.

Prabowo juga menceritakan kisah Citra Nur Ramadhani, siswi asal Kabupaten Pangkajene, Sulawesi Selatan. Saat duduk di kelas 4 sekolah dasar, Citra hampir putus sekolah karena harus membantu ibunya berjualan kacang.

Ayahnya telah wafat, sementara ibunya merupakan penyandang disabilitas. Kondisi keluarga membuat Citra harus ikut memikul beban kehidupan yang semestinya belum menjadi tanggung jawab seorang anak.

Prabowo mengatakan, Sekolah Rakyat kemudian hadir memberikan Citra kesempatan untuk tetap belajar tanpa harus meninggalkan keluarganya sendirian menghadapi perjuangan hidup. Di sekolah itu pula, Citra mengukir prestasi sebagai juara karate tingkat kabupaten.

Menurut Prabowo, keterbatasan ekonomi bukanlah akhir dari sebuah cita-cita ketika seorang anak diberi ruang untuk belajar, dibimbing, dan didukung. “Capaian ini membuktikan bahwa pelajar dari keluarga yang paling tidak berdaya, paling tidak mampu, jika diberi kesempatan, diberi fasilitas, diberi bimbingan, bisa mencapai prestasi yang tertinggi,” tegas Prabowo.

Bagi Rizki, Citra, dan ribuan anak lainnya, Sekolah Rakyat bukan hanya tentang ruang kelas dan pelajaran. Ia hadir dalam wujud buku, seragam sekolah, arena kompetisi, dan mimpi tentang masa depan yang kini terasa lebih mungkin diraih.

Prabowo pun menyampaikan pesan kepada seluruh siswa Sekolah Rakyat di Indonesia.

“Rizki, Citra, dan seluruh siswa-siswi Sekolah Rakyat di manapun kalian berada, kami di sini untuk kamu semua. Kami semua di sini untuk memastikan bahwa kamu punya masa depan, kamu punya kesempatan yang baik. Tidak ada anak Indonesia pun yang akan kita tinggalkan,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *