Biografi Sahilin Dibedah di Palembang, Tegaskan Peran Maestro hingga Jejak Internasional

Dalam pemaparannya, Feri Firmansyah menegaskan bahwa buku ini tidak hanya menyajikan riwayat hidup, tetapi juga kajian musikal.

Konten13 Views

Channel Indonesia — Buku “Sahilin dan Karya Musiknya: Biografi Maestro Tembang Batanghari Sembilan” dibedah dalam sebuah forum diskusi di Aula Nurul Amal, Sekip, Palembang, Sabtu (2/4/2026). Kegiatan ini mengulas secara komprehensif perjalanan hidup Sahilin serta kontribusinya dalam melestarikan dan mengembangkan tradisi Tembang Batanghari Sembilan hingga dikenal di tingkat internasional.

Buku tersebut ditulis oleh Feri Firmansyah bersama Irfan Kurniawan, M. Nasir, dan Hasan, dengan editor Houtman. Penyusunannya didukung Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah VI Sumatera Selatan dan Yayasan Lacak Budaya Sriwijaya.

Dalam pemaparannya, Feri Firmansyah menegaskan bahwa buku ini tidak hanya menyajikan riwayat hidup, tetapi juga kajian musikal.

“Buku ini tidak sekadar biografi, tetapi juga analisis musik. Sahilin kami lihat sebagai pelestari, inovator, dan inspirator,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Sahilin mampu mempertahankan bentuk tradisi sekaligus melakukan inovasi dalam penyajian tanpa menghilangkan karakter dasar Tembang Batanghari Sembilan.

Kegiatan bedah buku menghadirkan sejumlah narasumber, yakni Dedy Firmansyah, Silo Siswanto, Sayid Muhammad, serta Faldy Lonardo. Diskusi diikuti mahasiswa, seniman, dan praktisi musik yang aktif berdialog sepanjang acara.

Menurut Dedy Firmansyah, kekuatan Sahilin terletak pada konsistensi dalam menjaga tradisi.

“Sahilin tidak hanya menjaga, tetapi menghidupi tradisi melalui proses panjang dan ketekunan,” katanya.

Sementara Silo Siswanto menilai buku ini penting sebagai dokumentasi akademik.

“Tradisi lisan sangat rentan hilang. Buku ini menjadi rujukan penting bagi generasi berikutnya,” ujarnya.

Di sisi lain, Sayid Muhammad menyebut Sahilin sebagai representasi budaya Sumatera Selatan.

“Sahilin adalah wajah musik daerah. Ia bukan sekadar seniman, tetapi simbol budaya,” katanya.

Adapun Faldy Lonardo menyoroti relevansi nilai yang diwariskan Sahilin di era modern.

“Di tengah perkembangan digital, Sahilin mengajarkan pentingnya kedalaman rasa dalam berkarya,” ujarnya.

Dalam forum tersebut juga diungkap bahwa gelar “maestro” yang disematkan kepada Sahilin tidak berasal dari lembaga formal, melainkan dari pengakuan komunitas seni. Usulan gelar tersebut pertama kali disampaikan oleh Anwar Putra Bayu dan kemudian diterima luas oleh kalangan pelaku budaya.

Editor buku, Houtman, dalam pengantarnya menyebut Sahilin sebagai personifikasi Musik Batanghari Sembilan yang menjembatani masa lalu dan masa kini.

Sementara itu, Kepala BPK Wilayah VI, Kristanto Januardi, menyatakan bahwa kehadiran buku ini merupakan bagian dari upaya pelestarian kebudayaan.

“Kebudayaan selalu menemukan penjaganya. Sahilin adalah salah satu penjaga yang karya-karyanya hidup dalam ingatan masyarakat,” ujarnya.

Sahilin juga dikenal selektif terhadap dokumentasi karyanya. Ia kerap mengingatkan agar rekaman pertunjukan tidak disebarluaskan secara bebas untuk menjaga konteks artistik dan nilai autentik.

Meski demikian, dalam kepentingan penelitian ilmiah, Sahilin pernah direkam bersama Siti Rohmah oleh Philip Yampolsky pada 3 Agustus 1994. Rekaman tersebut dimuat dalam album Indonesian Guitars, yang menjadi salah satu dokumentasi penting musik gitar tradisional Indonesia di tingkat internasional.

Melalui kegiatan ini, buku biografi Sahilin diharapkan menjadi referensi akademik sekaligus sumber pembelajaran bagi generasi muda. Bedah buku ini juga menegaskan pentingnya pelestarian Tembang Batanghari Sembilan di tengah arus modernisasi, serta memastikan warisan musikal Sahilin tetap hidup dan relevan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *