Tragedi Dini Hari di Pabrik Gula Rendeng, Pekerja Tewas Tertimpa Alat Pengangkat Tebu

Yuke Adetya, mengaku baru mengetahui kecelakaan tersebut setelah menerima informasi dari sejumlah pekerja di lokasi kejadian.

Konten21 Views

Channel IndonesiaTragedi kecelakaan kerja terjadi di Pabrik Gula (PG) Rendeng, Kabupaten Kudus, Sabtu 8 Agustus 2026,  yang menyebabkan seorang pekerja musiman meninggal dunia setelah tertimpa papan kanal pengangkat tebu dari sebuah crane.

Korban diketahui bernama Irwan Agus Siswanto (49), warga Desa Gulang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, yang bekerja sebagai operator loko pengangkut tebu selama musim giling berlangsung.

Peristiwa naas tersebut terjadi sekitar pukul 03.50 WIB ketika korban sedang berada di sekitar area truk pengangkut tebu di lingkungan PG Rendeng.

Wakil Manajer Teknik PG Rendeng, Yuke Adetya, mengaku baru mengetahui kecelakaan tersebut setelah menerima informasi dari sejumlah pekerja di lokasi kejadian.

“Jam 03.50 WIB pagi, kurang lebih jam segitu ada kejadian tersebut dan saya juga nggak nyangka,” ujar Yuke, saat dikonfirmasi Sabtu 8 Agustus 2026.

Ia mengatakan kecelakaan tersebut terjadi secara tiba-tiba, terlebih kondisi crane saat itu tidak sedang mengangkat beban muatan tebu.

Crane yang digunakan untuk memindahkan tebu dari truk menuju meja tebu tersebut diketahui memiliki kapasitas angkat sekitar 7 hingga 8 ton.

“Ini posisi kembali mau mengangkat tebu, kosong, nggak ada bebannya,” terangnya

Menurut Yuke, insiden bermula saat sling atau tali baja berdiameter 19 milimeter yang menjadi bagian dari sistem pengangkat crane tiba-tiba putus.

Putusnya sling membuat papan kanal pengangkat tebu dengan berat sekitar 80 kilogram dan panjang kurang lebih satu meter terlepas dan jatuh dari posisi semula.

Benda tersebut jatuh dari ketinggian sekitar tiga hingga empat meter dan sempat membentur bagian bak truk yang berada di bawah crane.

Namun, papan kanal itu tidak masuk ke dalam bak truk, melainkan terpental ke arah luar dan kemudian menghantam tubuh Irwan yang kebetulan sedang melintas di samping truk.

“Putus, papan nabrak bak truk, kena baknya sedikit, terus dia nggak masuk ke bak truknya tapi malah keluar,” jelas Yuke.

Ia menjelaskan, area tepat di bawah alat pengangkat seharusnya merupakan kawasan yang steril dari aktivitas pekerja karena memiliki potensi bahaya jika terjadi kegagalan pada komponen crane.

“Harusnya posisi di bawah sekitar steril, tapi entah kenapa tiba-tiba ada yang lewat,” katanya.

Yuke menyebut jarak antara posisi crane dengan aktivitas orang di sekitar lokasi memang relatif berdekatan sehingga kewaspadaan terhadap pergerakan alat menjadi sangat penting.

Menurutnya, korban bukan merupakan operator crane yang bertugas mengoperasikan alat pengangkat tebu tersebut.

Ia mengatakan operator maupun pekerja yang sudah berpengalaman biasanya memahami risiko dan tidak akan berada tepat di bawah alat pengangkat ketika crane sedang beroperasi.

“Namanya risiko, sekecil apa pun, kejatuhan tetap ada, walaupun yang bersangkutan sudah pakai helm, ya namanya musibah itu nggak ada yang tahu,” ujarnya.

Pihak PG Rendeng menegaskan bahwa pemeriksaan terhadap peralatan crane dilakukan secara berkala untuk memastikan seluruh komponen dalam kondisi layak digunakan selama musim giling.

Pemeriksaan tersebut juga dilakukan dengan melibatkan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Jawa Tengah sebelum peralatan digunakan dalam kegiatan operasional.

Yuke menyatakan pihak pabrik memiliki dokumen pemeriksaan yang menunjukkan bahwa crane beserta komponen pendukungnya telah dinyatakan layak digunakan.

“Kami setiap tahun ini ada dokumennya, kami periksakan di Disnaker, dan seluruh komponen pada crane ada surat keterangan,” katanya.

Untuk sementara, PG Rendeng menghentikan penggunaan alat yang berkaitan dengan kecelakaan tersebut hingga proses penyelidikan selesai dilakukan.

Penghentian dilakukan sambil menunggu penyelidikan kepolisian guna memastikan penyebab putusnya sling serta rangkaian kejadian yang mengakibatkan papan pengangkat tebu jatuh dan mengenai korban.

“Sudah ada tim Inafis dan penyelidikan dari Polres Kudus, saksi-saksinya juga sedang diperiksa. Sementara ini aktivitas pengangkatan tebu berhenti, dan alat nggak saya gunakan dulu, Dari empat meja, hanya tiga meja yang kita fungsikan,” pungkasnya.

PG Rendeng memulai musim giling tahun ini  pada awal Mei lalu hingga Oktober mendatang, dengan kapasitas giling mencapai 3.000 ton tebu per hari.

Sementara itu, terkait kejadian tersebut, Kapolsek Kudus, AKP Subkhan, membenarkan adanya kecelakaan kerja yang mengakibatkan seorang pekerja meninggal dunia di lingkungan PG Rendeng.

Ia mengatakan lokasi kejadian telah dipasang garis polisi untuk mengamankan tempat kejadian perkara sekaligus mendukung proses penyelidikan.

“Lokasi kejadian sudah dipasang police line, untuk penanganan kasus ini langsung ditangani Polres Kudus,” ungkapnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *