Tutorial Mendengar Suara ‘Keheningan’, Seperti Apa Ya?

keheningan ternyata diproses dengan cara yang sama seperti suara.

Headline, Konten446 Views

Channel Indonesia – Sejak zaman Aristoteles, para ilmuwan dan filsuf memperdebatkan apakah keheningan bisa didengar. Serangkaian eksperimen baru oleh para peneliti dari Universitas John Hopkins di Amerika Serikat berusaha memecahkannya.

Penelitian menggunakan trik yang disebut ilusi satu-lebih-lebih, di mana otak pendengar akan ‘ditipu’ dengan berpikir bahwa dua suara terpisah lebih pendek dari satu suara tunggal. Meskipun pada kenyataannya total waktunya sama.

Mengganti suara dengan keheningan, tim menemukan bahwa ilusi itu masih berfungsi. Satu keheningan terus-menerus dianggap lebih lama dari dua keheningan yang terpisah, meskipun sebenarnya durasinya sama secara keseluruhan.

“Diam, apa pun itu, bukanlah suara. Itu adalah ketiadaan suara,” kata Rui Zhe Goh, seorang mahasiswa pascasarjana dalam bidang filsafat dan psikologi dari Universitas Johns Hopkins dalam Science Alert.

“Anehnya, apa yang disarankan oleh pekerjaan kami adalah bahwa ketidakadaan suara juga sesuatu yang dapat anda dengar,” sambungnya.

Para peneliti berpendapat bahwa karena manusia bereaksi terhadap kesunyian dengan cara yang sama seperti suara dalam trik ini, manusia benar-benar mendengar kesunyian itu.

Metode Penelitian

Sebanyak 1.000 peserta direkrut dalam tujuh percobaan. Selain ilusi satu-lebih, tes serupa lainnya dilakukan, seperti keheningan parsial dan keheningan yang bervariasi dalam seberapa dekat atau jauh jaraknya.

Kebisingan latar belakang seperti restoran yang ramai dan stasiun kereta digunakan untuk membingkai kesunyian untuk beberapa percobaan.

Bagaimana Hasilnya?

Sepanjang semua percobaan, efek yang dihasilkan sama, yakni keheningan ternyata diproses dengan cara yang sama seperti suara. Studi ini menambah pengetahuan manusia tentang bagaimana indra pendengaran berfungsi.

“Jenis ilusi dan efek yang terlihat unik untuk pemrosesan pendengaran suara, kami juga mendapatkannya dengan keheningan, menunjukkan bahwa kami juga benar-benar mendengar ketiadaan suara,” kata Ian Phillips, seorang filsuf dan psikolog di Universitas John Hopkins.

Banyak penelitian menunjukkan bahwa kesunyian dapat menjadi penting dalam memahami suara. Contohnya seperti cara manusia meninggalkan jeda di antara kata-kata.
Namun hingga saat ini, belum ada bukti eksperimental yang kuat bahwa kesunyian itu sendiri dapat berfungsi sebagai stimulus yang didengar oleh otak.

“Para filsuf telah lama memperdebatkan apakah keheningan adalah sesuatu yang dapat kita rasakan secara harfiah, tetapi belum ada penelitian ilmiah yang ditujukan langsung pada pertanyaan ini,” kata Chaz Firestone, seorang ilmuwan kognitif di Universitas John Hopkins.(Dari berbagai sumber/Annisa)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *