Karya Keren Bukan Karena Kasihan, Transformasi Rita Jadi Penjahit Mandiri Lewat Sentra Rehabilitasi Kupang

Perjuangannya ini juga difasilitasi oleh pemerintah melalui Sentra Layanan Asistensi Rehabilitasi Sosial (Atensi) Efata di Naibonat, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Konten10 Views

Channel Indonesia— Menyandang disabilitas sejak kecil tak menyurutkan Margaleritha Rohi (Rita), 38 tahun, untuk terus berusaha. Dia tak mengeluh atau meminta belas kasihan karena kekurangannya.

Rita justru berjuang sedikit demi sedikit. Perjuangannya ini juga difasilitasi oleh pemerintah melalui Sentra Layanan Asistensi Rehabilitasi Sosial (Atensi) Efata di Naibonat, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Rita diberi pelatihan menjahit di sana. Rita pun dibimbing menggunakan mesin jahit khusus untuk mendukung keterbatasan fisiknya.

“Sebelumnya belum bisa jahit. Sampai ke sana (Sentra Efata) diajar jahit setiap hari,” kata Rita bercerita perjuangannya belajar menjahit saat ditemui Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, dikutip Jumat (14/8).

Enam bulan berjalan, kemampuan menjahitnya semakin meningkat. Rita bahkan sudah berani membuka usaha jahit sendiri dan menerima orderan menjahit.

Kepala Sentra Efata Kementerian Sosial di Kupang, Tota Oceanna Zonneveld, mengatakan keberadaan Sentra Layanan Atensi ini tak sekadar memberikan keterampilan teknis bagi penerima manfaat seperti Rita. Ada misi kemanusiaan yang lebih mendalam, yakni memulihkan martabat dan kemandirian sosial ekonomi mereka.

“Yang paling penting itu sebetulnya membangkitkan atau memulihkan kembali rasa percaya diri PM (penerima manfaat), bahwa mereka itu setara dengan orang lain. Kita tidak merehabilitasi fisiknya, tapi bagaimana ia berfungsi sosial secara optimal,” kata Tota.

Menurutnya, kondisi tersebut hanya bisa dicapai jika penerima manfaat memiliki sumber penghasilan sendiri, sehingga tidak lagi menunggu belas kasihan orang lain.

Kini, usaha jahit Rita terus bertumbuh. Kualitas jahitannya bahkan diakui oleh para pegawai yang kerap memesan baju kepadanya. Dengan sigap, Rita bisa menyelesaikan pesanan pakaian hanya dalam waktu sehari.

Tota berharap Rita kelak bisa menjadi penjahit profesional. Bahkan, bisa menjadi desainer. “Yang kemudian produknya itu dibeli karena memang keren, bukan karena kasihan,” ujarnya.

Kisah perjuangan Ritą inilah yang membawanya ke Jakarta. Ritą diundang oleh Presiden RI Prabowo Subianto untuk menghadiri rangkaian HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Mulai dari mengikuti sidang di Gedung MPR/DPR pada 14 Agustus hingga diundang menghadiri Upacara Bendera di Istana Merdeka pada 17 Agustus 2026.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *