Channel Indonesia — Para pengusaha mengapresiasi perekonomian Indonesia yang berhasil tumbuh 5,61 persen (year-on-year/yoy) pada triwulan I-2026. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang tercatat sebesar 4,87 persen.
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, mengatakan pertumbuhan tinggi ini tidak lepas dari program pemerintah yang dieksekusi dengan cukup baik.
Program tersebut antara lain program makan bergizi gratis (MBG) yang berjalan masif dengan anggaran hingga Rp80 triliun, pembangunan 3 juta rumah, serta kegiatan investasi langsung yang sudah berjalan sejak awal tahun.
“Kami mengapresiasi kinerja pemerintah. Program pemerintah yang diterapkan sejak awal 2025 mulai menunjukkan hasil tahun ini,” ujar Anindya dalam keterangan resmi, Selasa (5/5/2026).
Menurut Anindya, pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap tinggi meskipun kondisi global memburuk. Ia menilai capaian ini luar biasa dan patut diapresiasi.
Apalagi, dibandingkan negara tetangga, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat lebih tinggi. Sebagai contoh, Malaysia tumbuh 5,3 persen dan Singapura 4,6 persen pada tiga bulan pertama tahun ini.
“Ini adalah prestasi membanggakan,” tegasnya.
Anindya memastikan Kadin akan terus bekerja sama dengan pemerintah, mendukung, dan berpartisipasi penuh dalam berbagai program untuk mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi serta menciptakan pemerataan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Senada dengan itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta W. Kamdani, juga mengapresiasi capaian perekonomian yang tumbuh pesat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Dunia usaha mengapresiasi capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026 sebesar 5,61 persen. Ini menjadi yang tertinggi untuk periode kuartal pertama sejak 2013, sekaligus pertumbuhan kuartalan tertinggi sejak kuartal III-2022 atau tertinggi dalam 14 kuartal terakhir,” kata Shinta.
Ia mengakui bahwa berbagai upaya pemerintah dalam mendorong konsumsi telah membuahkan hasil. Hal ini tercermin dari konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,52 persen, setelah cukup lama tertahan di bawah level 5 persen.
Upaya pemerintah dalam meningkatkan daya beli masyarakat juga terlihat dari konsumsi pemerintah yang melonjak hingga 21,81 persen.
Berbagai stimulus diluncurkan menjelang Hari Raya Idulfitri, mulai dari diskon tarif pesawat hingga pemberian Tunjangan Hari Raya (THR).
“Ini menunjukkan bahwa secara headline growth, ekonomi Indonesia masih mencerminkan ketahanan (resilience) yang cukup kuat berbasis permintaan domestik,” jelas Shinta.
Shinta berharap kebijakan pemerintah yang sudah berjalan baik tidak berhenti sampai di sini. Bagi dunia usaha, hal utama yang perlu diperhatikan adalah transmisi pertumbuhan tersebut ke aktivitas bisnis riil.
Di sisi lain, pemerintah dinilai perlu memperhatikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang kini menyentuh sekitar Rp17.400 per dolar AS. Sebab, jika dibiarkan berlarut-larut, hal ini dapat berdampak buruk bagi dunia usaha.
“Dalam konteks ini, dunia usaha menghadapi situasi yang disebut sebagai asymmetric impact of growth, di mana pertumbuhan tetap terjadi, tetapi manfaatnya belum terdistribusi secara merata, sementara tekanan biaya meningkat. Jadi, meskipun secara makro kita melihat angka pertumbuhan yang solid, di tingkat mikro banyak pelaku usaha masih berada dalam fase *margin compression,” pungkasnya.












