Kritik Keras Pada Alshad Ahmad, Bukan Konservasi Tapi Eksploitasi Hewan

Alshad dikenal sebagai influencer yang kerap membuat konten bersama satwa liar miliknya.

Headline, Konten790 Views

Channel Indonesia – Influencer yang memelihara satwa liar salah satunya adalah Alshad Ahmad, Alshad telah diperhatikan sejak lama oleh aktivis satwa liar sebelum kematian anak harimau viral. Ia berdalih konservasi hewan liar faktanya hanya eksploitasi saja.

Selama ini, Alshad dikenal sebagai influencer yang kerap membuat konten bersama satwa liar miliknya. Konten bermain bersama harimau menjadi tema yang sering dia buat. Narasinya pun disusun seolah harimau yang merupakan satwa liar dapat menjadi hewan peliharaan yang dekat dengan manusia.

Konten-konten ini diterima penggemar Alshad dengan pujian dan dukungan. Responsnya berbeda 180 derajat dengan para aktivis dan pecinta satwa yang miris dengan sikap Alshad.

Respons tersebut terlihat dari laporan Social Media Animal Cruelty Coalition (SMACC) bertajuk Hewan Peliharaan Liar di Media Sosial: Lingkaran Setan Penderitaan. Laporan itu dirilis pada 2022.

Dalam laporan tersebut, koalisi sejumlah NGO dari berbagai negara itu meriset sejumlah konten satwa liar yang dipelihara mulai tahun 2021 hingga 2022. Hasilnya, mereka menemukan tiga jenis kekerasan yang umum dilakukan yakni penyiksaan psikologis, menjadikan hewan sebagai penghibur, dan kekerasan fisik.

Sayangnya, konten-konten yang dibuat itu umumnya juga dikemas dengan gaya menghibur. Tak jarang, judul konten juga dibuat menggemaskan sehingga mendorong masyarakat untuk menontonnya.

“Saat pengguna media sosial mengunggah video hewan liar peliharaannya, penonton hanya melihat cuplikan dari hidup hewan tadi. Mereka tidak melihat kekejaman yang dilakukan untuk mengambil momen itu,” tulis laporan tersebut.

Peneliti dan Akademisi Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia, Rheza Maulana, juga mengatakan bahwa nama Indonesia sudah tercoreng akibat banyaknya konten pemeliharaan satwa liar yang dilakukan influencer. Dia menjelaskan Indonesia bahkan menjadi negara dengan kekejaman satwa terburuk di dunia.

“Mereka (SMACC) membahas negara-negara mana yang masih ngeyel membolehkan perdagangan satwa liar dan mengkontenkan di sosial media. Nama Indonesia itu nomor 1 kekejaman satwa dan nomor 1 produsen konten satwa,” kata Rheza saat dihubungi detikTravel lewat telepon, Sabtu (29/7/2023).

“Dan, yang lebih mirisnya lagi dalam laporan itu influencer-influencer Indonesia namanya disebut dan fotonya ada. Termasuk yang sedang dibicarakan (Alshad Ahmad),” ujarnya lagi.

Rheza berujar sebelum anak harimau Benggala bernama Cenora itu mati pada 24 Juli 2023, sebenarnya sudah banyak orang yang memperingatkan gaya pemeliharaan Alshad. Namun, segala pertanyaan dan kritik yang diajukan itu mental tanpa ada penyelesaian.

“Harusnya dari dulu bisa dicegah. Tapi semua argumen kami terpatahkan dengan punya izin dan bukan harimau lokal, yang mana itu tidak menjawab sama sekali,” kata Rheza.

Ya, harimau Benggala yang dipelihara Alshad merupakan satwa asal India. Statusnya kini terancam punah. Meskipun begitu, Pemerintah Indonesia tidak memasukkan harimau Benggala dalam daftar satwa dilindungi karena hewan ini bukan satwa endemik Indonesia. Alshad menyebutkan, Cenora bukan satu-satunya anak harimau di penangkarannya yang mati. Sudah enam anak harimau lain mati di tempat itu.

Menanggapi kritik keras aktivis satwa setelah kematian Cenora, Alshad mengancam mereka yang berkomentar jahat dengan Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik atau Undang-undang nomor 11 tahun 2008 adalah UU yang mengatur tentang informasi serta transaksi elektronik, atau teknologi informasi secara umum.(Dari berbagai sumber/Annisa)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *