Upacara Sekaten, Tradisi yang Memiliki Makna Mendalam

Upacara Sekaten merupakan upacara keraton yang diselenggarakan dalam rangka memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Headline, Konten460 Views

Channel Indonesia – Upacara Sekaten atau sering dikenal masyarakat dengan nama Grebek Maulud  merupakan upacara keraton yang diselenggarakan dalam rangka memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Upacara ini diselenggarakan secara periodik satu tahun sekali yaitu setiap tiap tanggal 5 sampai 12 Rabi’ul Awal (atau dalam kalender Jawa disebut bulan Mulud).

Upacara sekaten berkaitan erat dengan sejarah penyebaran agama Islam yang ada di Pulau Jawa. Wali Sanga merupakan tokoh utama dibalik lahirnya tradisi  ini untuk menyebarkan agama islam di Pulau Jawa.

Upacara sekaten digelar oleh keraton Surakarta dan keraton Ngayogyakarta. GPH Poeger dalam buku berjudul “Kalawarti Budaya Sitarodya” menyebutkan bahwa Sekaten berasal dari bahasa Jawa yaitu dari kata “Sekati” yang artinya setimbang atau seimbang antara yang baik dengan yang buruk.

Arti Kata Sekaten pada Upacara Sekaten dalam Bahasa Arab

Dalam bahasa Arab, sekaten mempunyai beberapa pengertian ataupun makna sebagai berikut:

  1. Sakhatein artinya menghilangkan dua perkara yaitu watak hewan dan watak setan.
  2. Sakatain artinya menghentikan atau menghindari dua perkara yaitu perkara yang bersifat lacut dan bersifat menyeleweng.
  3. Sakhotain artinya menanamkan dua perkara yaitu ngrumkebi budi suci dan menghambakan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.
  4. Syahadatain artinya meyakini dua perkara yaitu Syahadat Tauhid atau percaya akan adanya Allah SWT dan Syahadat Rasul yang artinya percaya bahwa Nabi Muhammad itu utusan Allah.

ES Ardinarto dalam karya tulisnya berjudul “Sekaten Merupakan Upacaya Adat yang Bernuansa Religius” menyebut Sekaten berasal dari kata sekati yaitu nama dua perangkat gamelan pusaka keraton yang dibunyikan selama seminggu semenjak tanggal 5 sampai dengan tanggal 12 bulan Robiullawal atau Mulud dalam rangkaian acara menyambut hari Maulid (kelahiran) Nabi Muhammad SAW.

Makna Gunungan dan Gamelan dalam Tradisi Sekaten

Dalam upacara ini, terdapat perangkat gamelan dan gunungan menjadi hal yang sangat penting. Kedua perangkat tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.Gamelan dan gunungan merupakan perpaduan antara adat istiadat dengan religius. Gamelan merupakan adat budaya Jawa yang sudah ada sejak nenek moyang dahulu. Demikian juga gunungan yang bermakna gunung-gunung sebagai salah satu wujud sesaji selamatan yang khusus dibuat untuk disajikan dalam selamatan negara.

Perangkat gamelan dalam tradisi sekaten

Penyelenggaraan sekaten mengandung suatu ajaran dalam bentuk simbol dan lambang yang terkandung makna di dalamnya. Sebagai contoh, yang terdapat pada perangkat gamelan yang digunakan. Pada tahap gamelan pusaka pertama kali dibunyikan, diselenggarakan upacara udhik-udhik, yaitu penyebaran kepingan uang logam oleh Sri Sultan. Pemberian kepingan uang logam oleh raja ini merupakan lambang dari pemberian anugerah berwujud harta dan berkat wujud tuah kekeramatan dari Tuhan YME.

Dalam ajaran Islam dinamakan sodaqoh, dalam ajaran Kristen dinamakan persembahan. Jadi sekaten tidak hanya menyambut perayaan kelahiran Nabi Muhammad, tetapi juga sebagai upacara wujud syukur keraton kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Selain itu,  pada setiap bagian perangkat Gamelan Pusaka Sekaten memiliki namanya sendiri. Salah satu nama perangkat gamelan, yaitu Gunturmadu yang melambangkan turunnya wahyu. kemudian ada perangkat yang namanya Nagawilaga, yang mengandung makna kemenangan perang yang abadi.

Yaumi, salah satu judul gending dalam sekaten, mengandung makna hari Maulid Nabi Muhammad SAW. Judul gending selanjutnya yaitu Salatun, yang mengandung makna berdoa menyembah Tuhan YME. Selain itu terdapat juga gending Dhindang Sabinah, yang mengandung makna untuk mengenang jasa para mubaligh yang menyiarkan agama Islam.

Terdapat juga gending yang berjudul Ngajatun, mengandung makna kemauan hati untuk masuk Islam. Dan gending Supiyatun, yang mengandung makna kemauan kuat untuk mencapai kesucian hati.

(Dari berbagai Sumber/ Mifta Khurokhmah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *